Minggu, 12 April 2026

Meneladani Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX


Serang // GebrakNasional.com - Hari ini merupakan peringatan ke-114 tahun Bapak Pramuka Indonesia, tanggal 12 April diperingati sebagai Hari Bapak Pramuka Indonesia, sebagaimana ditetapkan oleh Kwartir Nasional melalui Surat Keputusan Nomor 046 Tahun 2018 tentang Peringatan Hari Bapak Pramuka Indonesia. 

Sri Sultan Hamengku Buwono IX, lahir 12 April 1912 dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun, Pada tahun 1914, ketika Dorodjatun belum genap tiga tahun, Gusti Pangeran Puruboyo diangkat menjadi Putra Mahkota Yogyakarta. 

GRM Dorodjatun merupakan anak kesembilan pasangan Gusti Pangeran Puruboyo dari istri utamanya Raden Ajeng Kustilah. Dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwana IX pada tanggal 18 Maret 1940, yang merupakan Sultan Yogyakarta kesembilan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama, dan juga merupakan Wakil Presiden Indonesia kedua yang menjabat pada tahun 1973–1978.

Hamengku Buwono IX juga merupakan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang pertama (periode 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974 atau selama tiga belas tahun) dan dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Sri Sultan Hamengku Buwono IX meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Bantul, D.I.Yogyakarta.

Dilansir dari situs pramukadiy, Sepak terjang seorang GRM Darojatun atau yang lebih dikenal dengan nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Kak Sultan HB IX) dalam Gerakan Pramuka Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Sejak usia belia, dirinya sudah aktif menggeluti Gerakan kepanduan, di setiap jenjang pendidikannya, mulai dari sekolah dasar hingga di perkuliahan. 

Tak hanya itu, Kak Sultan HB IX juga aktif menyebarkan semangat kepanduan di masa perjuangan. Perannya dalam Gerakan Pramuka Indonesia sangat besar dan penting. Dirinya terlibat aktif dalam penyatuan sekitar 70 organisasi kepanduan yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara (dilebur menjadi satu organisasi nasional “Gerakan Pramuka. 

Istilah “Pramuka” tercetus dari Kak Sultan HB IX yang terinspirasi dari kata “Poromuko” yang jika diartikan adalah pasukan terdepan dalam suatu peperangan. Kemudian dikembangkan bahwa “Pramuka” merupakan akronim dari Praja Muda Karana dengan arti jiwa-jiwa muda yang berkarya. Kak Sultan HB IX, adalah pribadi yang visioner, sederhana, dan peduli pada pembinaan generasi muda. Di masa beliau, kepanduan tak hanya menjadi kegiatan rekreasi, tetapi juga sarana pembentukan karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan rasa cinta tanah air. 

Menurut Kak Prof. Hj. Suwarsih Madya, M.A., Ph.D. ada enam pokok nilai-nilai luhur dari berbagai kiprah Kak Sultan HB IX dari sebelum maupun sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, diantaranya adalah, 1) Patriotik dalam membela kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan demi kedaulatan dan martabat Nusa dan Bangsa. 2) Mengamalkan nilai bahwa kedudukan dan harta adalah titipan Tuhan Yang Maha Kuasa dan oleh sebab itu harus dimanfaatkan sebesar-besar untuk rakyat. (Tahta untuk Rakyat).

Kemudian selanjutnya 3) Bersahaja, hemat, cermat sehingga terhindar dari penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan. 4) Low profile atau rendah hati (tidak suka menonjolkan kebaikan yang pernah dilakukan). 5) Merakyat. 6) Berpikir transformatif antarbudaya (memadukan Barat dan Timur secara harmonis untuk kepentingan bangsa) untuk kesejajaran antarbangsa dan reformatif. Semua nilai luhur yang dicontohkan pengamalannya oleh Kak Sultan HB IX mencerminkan akhlak mulia yang tetap akan relevan sepanjang hidup. 

Kak Sultan HB IX sangat berperan dalam membangun dan mengembangkan Gerakan Pramuka terutama pada masa peralihan dari “kepanduan” menuju “kepramukaan” sehingga pada 1973 Kak Sultan HB IX dianugerahi penghargaan tertinggi dari World Organization of Scout Movement (WOSM) bernama Bronze Wolf Award, yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar dalam pengembangan kepramukaan. 

Penghargaan lain yang berhasil diperolehnya yaitu Silver World Sward dari Boy Scouts of America pada 1972. Dalam dunia kepanduan dan kepramukaan, beliau juga dikenal sebagai Pandu Agung, karena peranannya sebagai sosok guru dan teladan bagi Pramuka Indonesia. 

Atas prestasi-prestasi cemerlangnya, pada 1988 melalui Surat Keputusan nomor 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka, Kak Sultan HB IX ditetapkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia di Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka di Dili, Timor Timur.

Mengutip naskah seminar Kak Paulus Tjakrawan, mengatakan ada sepuluh alasan dari Komite Kepramukaan Dunia/World Scout Committe menganugerai Kak Sultan HB IX Bronze Wolf Award, pertama adalah terkait dengan keberhasilan dalam upaya yang sedemikian besar serta teguh dalam menyatukan kepanduan di Indonesia. Kemudian kedua adalah memberikan arah baru bagi pendidikan kepramukaan untuk lebih menyatu dengan masyarakat melalui kegiatan Community Services dan Community Development. 

Alasan selanjutnya yakni menggagas dan menyelenggarakan Perkemahan Wirakarya sejak 1968, dilanjutkan dengan adanya Transmigrasi Pramuka, rajabasa lama, Lampung Tengah 1974, kemudian membangun Bumi Perkemahan Cibubur pada tahun 1971. Kak Sultan juga telah berhasil memberikan arahan pada konferensi kepanduan dunia tahun 1971 di Tokyo dalam pidatonya, Renewing of Scouting. Ia juga mempertajam pendidikan kepramukaan dengan membentuk Dewan Kerja Penegak Pandega tahun 1966.

Selain itu, Kak Sultan juga menginisiasi pembentukan Satuan Karya Pramuka yang mendapatkan apresiasi oleh kepanduan dunia. Alasan kesembilan adalah Program Tabungan Pramuka, dan kesepuluh adalah berhasil melakukan menyatukan para pandu/pramuka senior.

Warisan Nilai dari Kak Sultan HB IX, yaitu menanamkan semangat “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan” dalam kehidupan sehari-hari, menekankan pentingnya gotong royong dan persatuan di tengah keberagaman, dan mengajarkan bahwa Pramuka bukan hanya kegiatan alam terbuka, tapi juga sekolah kehidupan. 

Selain itu, dapat disimpulkan dari peranan-peranan Kak Sultan HB IX, mulai dari peranan beliau dalam bidang militer, sosial, ekonomi, agama, budaya, dan gerakan pramuka, dapat diteladani dan patut dijadikan contoh sifat dan karakteristik dari Kak Sultan HB IX.

Dalam bidang politik, militer, dan ekonomi beliau mencerminkan sikap tegas, berwibawa, mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan solutif. 

Dalam bidang sosial dan agama beliau mencerminkan sikap arif, bijaksana, adil, welas asih, tanpa pamrih, dan pengertian. Dalam bidang budaya dan kepramukaan beliau mencerminkan sikap penuh ide, inovasi, kreativitas, dan kreasi. 

Oleh sebab itu, sudah semestinya seorang pramuka dapat mencontoh sikap dan sifat yang dimiliki oleh Kak Sultan HB IX sebagai suri tauladan dan acuan untuk belajar arti pemimpin dan kepemimpinan, para Pramuka harus mampu mewarisi semangat kesederhanaan, pengabdian tanpa pamrih, kepemimpinan demokratis, dedikasi pada pembangunan masyarakat, dan terus-menerus berinovasi, serta aktif dalam menolong sesama, menjadikan nilai kepramukaan sebagai laku hidup sehari-hari.

Artikel ini ditulis oleh Satibi, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Serang.

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Berita Terbaru

Back to Top