Jumat, 27 Maret 2026

Membaca Kembali Strategi Besar Iran

Foto ilustrasi serangan AS-Israel ke Iran. 

Oleh: Dadi Krismatono


Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang kini memasuki pekan keempat, memperlihatkan satu hal penting bahwa perang modern tidak selalu berjalan sesuai rencana. 


Apa yang semula dibayangkan Presiden AS Donald Trump sebagai operasi cepat dan menentukan (decisive) justru berkembang menjadi konflik berlarut dengan dampak yang meluas, termasuk terhadap stabilitas ekonomi global


Di balik dinamika militer, Iran menunjukkan bahwa kekuatan tidak hanya diukur dari jumlah senjata atau pasukan, tetapi juga dari kemampuan mengelola tekanan, baik politik, ekonomi, maupun psikologis. 


Dengan memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Hormuz, Iran tidak sekadar melawan di medan tempur, tetapi juga menggeser arena konflik ke sektor energi global. 


Dampaknya langsung terasa: kekhawatiran krisis energi, lonjakan harga, dan tekanan ekonomi di berbagai negara. 


Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah Washington salah membaca Iran? 


Kurang dari setahun sebelum konflik ini meletus, profesor hubungan internasional dan kajian Timur Tengah Johns Hopkins University, Vali Nasr, menerbitkan Iran’s Grand Strategy: A Political History (2025). 


Dalam buku tersebut, Nasr mengajak pembaca melihat Iran bukan semata sebagai negara yang digerakkan oleh ideologi, tetapi sebagai aktor rasional yang membangun strategi berdasarkan pengalaman sejarah dan kalkulasi kepentingan nasional. 


Vali Nasr adalah anak Seyyed Hossein Nasr, cendekiawan yang cukup dikenal di Indonesia lewat buku-bukunya tentang filsafat, sains, dan spiritualitas dalam Islam. 


Hossein mengenyam pendidikan Amerika di MIT dan Harvard dan menjadi pejabat bidang pendidikan tinggi di Iran pada masa Muhammad Reza Shah. 


Tak ayal, posisinya itu membuat keluarga Nasr terpaksa eksil ke AS ketika Revolusi Islam pecah pada 1979. 


Kembali ke Vali Nasr, dalam bukunya itu ia menjelaskan bahwa sikap anti-Amerika bagi Iran tidak lagi semata-mata berakar pada ideologi Revolusi Islam 1979. 


Seiring waktu, sikap tersebut berkembang menjadi bagian dari strategi bertahan hidup dalam lingkungan regional yang penuh tekanan. 


Pengalaman perang Iran-Irak, sanksi ekonomi, serta dinamika global pasca-11 September membentuk cara Iran memandang dunia dan dirinya sendiri di dalamnya. 


Di sinilah letak kunci untuk memahami perilaku Iran hari ini. Strategi besar Iran adalah strategi resistensi sebagai upaya terus-menerus untuk mempertahankan kedaulatan dan otonomi di tengah tekanan eksternal. 


Strategi ini tidak hanya tercermin dalam kebijakan luar negeri, tetapi juga dalam struktur ekonomi, politik domestik, hingga relasi negara dengan masyarakatnya. 


Salah satu elemen penting dalam strategi tersebut adalah doktrin forward defense, doktrin militer asimetris yang bertujuan menangkal musuh Iran sejak di luar perbatasan. 


Iran membangun jejaring aktor-aktor politik dan militer non-negara di kawasan. 


Sebagiannya dibangun dengan semangat solidaritas Syiah, seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman, sebagian lagi atas kalkulasi strategis menghadapi musuh bersama yang tampak dalam dukungan kepada Hamas di Gaza. 


Dalam perkembangannya, strategi ini tidak lagi bergantung pada milisi semata. Iran mengintegrasikan berbagai instrumen modern seperti perang siber, rudal balistik, teknologi drone, hingga penguatan angkatan laut. 


Kombinasi ini memungkinkan Iran memainkan perang asimetris untuk mengimbangi kekuatan militer yang secara konvensional jauh lebih unggul. 


Banyak laporan sejak 2020 menggambarkan kemajuan pesat angkatan laut Iran sebagai indikator perubahan fokus dan prioritas geopolitik. 


Namun, strategi tersebut tidak datang tanpa biaya. Dukungan terhadap kelompok milisi di berbagai negara memperburuk hubungan Iran dengan negara-negara Arab, memperdalam fragmentasi sektarian di kawasan, dan memperkuat isolasi internasional. Sanksi ekonomi berkepanjangan berdampak langsung pada kehidupan rakyat.


Kemiskinan, inflasi tinggi, menyusutnya kelas menengah, serta meningkatnya ketidakpuasan sosial merupakan realitas sehari-hari. 


Gelombang protes yang muncul dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari Gerakan Hijau 2009 hingga kemarahan publik atas kasus jilbab Mahsa Amini, menunjukkan bahwa di balik ketahanan negara, terdapat kerentanan sosial yang tidak bisa diabaikan. 


Bermain dengan Waktu


Meski demikian, dalam konteks konflik saat ini, Iran justru menunjukkan tingkat resiliensi yang mengejutkan. 


Perhitungan awal bahwa serangan terhadap elite politik dan militer akan melumpuhkan Iran tidak terbukti. 


Transisi kepemimpinan berlangsung relatif stabil dan negara tetap mampu mengonsolidasikan dukungan domestik. 


Lebih jauh, Iran berhasil menggeser medan konflik ke arah yang lebih menguntungkan. 


Dengan memainkan kartu energi global, Iran menciptakan tekanan tidak langsung terhadap negara-negara yang terlibat maupun sekutunya. 


Dalam perang seperti ini, waktu menjadi variabel kunci. 


Berbeda dengan pendekatan militer konvensional yang mengandalkan kemenangan cepat, strategi Iran justru bertumpu pada daya tahan. 


Iran tidak perlu memenangkan perang secara spektakuler, melainkan cukup membuat lawan kelelahan secara ekonomi, politik, dan psikologis. 


Pada titik ini, terlihat bahwa waktu cenderung berpihak pada Iran. Sementara AS menghadapi tekanan domestik untuk mengakhiri konflik dan sekutu tradisionalnya di Eropa memunggunginya, Iran justru diuntungkan oleh berlarutnya ketegangan yang meningkatkan daya tawarnya. 


Namun, dinamika kawasan tidak berhenti di situ. Faktor Israel menjadi variabel penting yang berpotensi melakukan sabotase terhadap proses perdamaian untuk memperpanjang konflik. 


Kepentingan politik domestik—khususnya pengusutan korupsi Perdana Menteri Benyamin Netanyahu—dan agenda keamanan Israel dapat mendorong eskalasi lebih lanjut, termasuk kemungkinan tindakan provokatif guna menyeret AS lebih dalam. 


Dalam konteks ini, konflik bukan lagi sekadar soal Iran versus AS atau Israel. Ia telah berkembang menjadi persoalan stabilitas kawasan yang lebih luas, bahkan berimplikasi global. 


Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan isu yang jauh. Ketergantungan pada energi global membuat setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi langsung berdampak pada perekonomian domestik. 


Kenaikan harga energi dapat merembet ke inflasi, biaya logistik, hingga daya beli masyarakat. Karena itu, respons Indonesia perlu bersifat tenang, terukur, dan berbasis kepentingan nasional. 


Diplomasi harus tetap mengedepankan prinsip perdamaian dan multilateralisme, sekaligus diiringi dengan langkah mitigasi ekonomi yang konkret. 


Pada akhirnya, konflik ini mengingatkan kita bahwa dalam politik internasional, memahami strategi lawan sering kali lebih penting daripada sekadar mengandalkan kekuatan. 


Iran mungkin tidak selalu unggul dalam kapasitas militer, tetapi kemampuannya membaca waktu dan memanfaatkan ruang strategis membuatnya tetap menjadi aktor yang tidak bisa diremehkan. 


Bagi Indonesia, pelajaran terpenting adalah bahwa dampak perang modern tidak pernah berhenti di medan tempur, tetapi dapat berimbas ke dapur emak-emak dan periuk nasi rakyat.


Penulis adalah seorang Praktisi Komunikasi, Direktur Maton Public Affairs Advisory


Sumber: kompas.com

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Berita Terbaru

Back to Top