Pontianak Kalbar // GebrakNasional.com - Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar bukan sekadar ajang pertandingan, melainkan sebuah wahana pendidikan yang bertujuan menguji wawasan, melatih ketajaman berpikir, serta menanamkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan objektivitas ilmu pengetahuan.
Dr. Deny, S.H., M.H, sebagai praktisi dan akademisi Unisda Lamongan asal Kalimantan Barat sangat menyayangkan dan mengkritik keras pelaksanaan LCC Empat Pilar yang diselenggarakan pada tanggal 9 Mei 2026 di Kalimantan Barat, yang ternyata ditemukan adanya pelanggaran prinsip dasar evaluasi dan kompetisi, yakni ketidakadilan penilaian atas jawaban peserta.
Salah satu persoalan yang menimbulkan keberatan adalah adanya perlakuan yang dinilai tidak adil terhadap jawaban peserta. Dalam praktik perlombaan, ditemukan situasi di mana terdapat jawaban peserta yang secara substansi maupun redaksi sama persis dengan jawaban yang telah disampaikan oleh peserta sebelumnya, namun memperoleh penilaian yang berbeda dari dewan juri.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi standar penilaian yang digunakan selama perlombaan berlangsung.
Dalam sebuah kompetisi akademik, prinsip utama yang harus dijunjung tinggi adalah objektivitas, transparansi, dan persamaan perlakuan terhadap seluruh peserta. Ketika jawaban yang identik sama justru menghasilkan keputusan yang berbeda, maka hal tersebut berpotensi mencederai rasa keadilan serta menurunkan kepercayaan peserta terhadap kredibilitas penyelenggara.
Selain itu, ketidakkonsistenan penilaian dapat menimbulkan dampak psikologis bagi peserta yang merasa dirugikan, terutama apabila keputusan tersebut mempengaruhi hasil akhir perlombaan. Kompetisi bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga tentang penghargaan terhadap proses, integritas, dan penghormatan terhadap kemampuan peserta secara adil.
Dr. Deny, SH., M.H sebagai praktisi dan akademisi, sangat khawatir dengan dampak atas kejadian ini kepada para peserta, yang umumnya adalah pelajar. Lomba seharusnya mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan itu pasti, kebenaran itu mutlak, dan usaha yang jujur akan dihargai. Namun kejadian ini mengajarkan hal sebaliknya: bahwa kebenaran bisa berubah tergantung kebijakan penilai/juri, dan usaha keras bisa sia-sia karena ketidakadilan.
Keadilan dan kepastian adalah nyawa dari setiap kegiatan pendidikan. Tanpa itu, lomba hanyalah sekadar pertunjukan tanpa makna. Pungkas Dr. Deny, SH., M.H sebagai praktisi dan akademisi. (Hendi/Red)
Tidak ada komentar:
Tulis komentar