Senin, 12 Januari 2026

Mengapa Operasi "Absolute Resolve" Berjalan Mulus di Venezuela?

Nicolas Maduro (tengah) saat dibawa ke tahanan di AS. 

Oleh: Ronny P Sasmita


Dunia terbangun pada pagi hari tanggal 3 Januari 2026, dengan kenyataan baru yang mengejutkan, yakni Nicolas Maduro, Presiden Venezuela, mendadak tidak lagi berada di Istana Miraflores.


Dalam hitungan jam, negara yang membentengi diri dengan ribuan rudal buatan Rusia dan radar canggih besutan China jatuh seketika oleh operasi militer, yang menurut saya, paling bersih dalam sejarah perang modern.


Banyak yang bertanya, apakah ini sihir teknologi atau sekadar keberuntungan? Dari kacamata geostrategi dan studi perang, Operasi Absolute Resolve bukan sekadar serangan, melainkan simfoni presisi yang menggabungkan kecerdasan buatan, keberanian manusia, dan dominasi teknologi kelas wahid yang dimiliki Pentagon.


Intinya, Amerika Serikat tidak datang dengan nafsu untuk menghancurkan, tapi dengan kalkulasi untuk memenggal.


Sejak matahari terbenam di Karibia malam itu, tanda-tanda keruntuhan rezim sudah terlihat bagi mereka yang paham membaca frekuensi udara.


Langit di atas Caracas yang biasanya bising dengan komunikasi radio militer tiba-tiba hening karena "kesunyian sebelum badai" yang diciptakan oleh Pentagon. Bukan dengan bom gravitasi, tapi dengan algoritma yang menyusup ke saraf-saraf sistem pertahanan Venezuela.


Keberhasilan Black Op kali ini tentu akan dijadikan narasi serangan balik atas argumentasi yang menyebut bahwa kekuatan militer Barat sedang dalam fase penurunan.


Di lapangan, kita melihat bagaimana doktrin Multi-Domain Operations (MDO) bekerja secara sempurna. AS tidak hanya menyerang dari satu arah, tapi dari berbagai dimensi, mulai dari dimensi siber, luar angkasa, udara, laut, hingga ke dalam kamar tidur sang diktator.


Dengan kata lain, ketika Amerika memutuskan untuk bergerak, jarak dan benteng beton hanyalah angka-angka di atas kertas yang dengan mudah dihapus oleh teknologi stealth Pentagon.


Memang serangan ini sangat kontroversial, terutama jika dilihat dari kacamatan hukum internasional dan kedaulatan teritorial negara.


Namun, setidaknya bagi para analis militer dan geopolitik yang mendalami kajian perang dan operasi khusus (Black Op), serangan Amerika kali ini berjalan semulus pisau panas memotong mentega.


Dengan kata lain, Amerika sebenarnya telah memenangkan perang, bahkan sebelum helikopter pertama lepas landas. Keunggulan ini tentunya tidak lahir dalam waktu semalam, tapi dari persiapan yang melibatkan ribuan jam pengintaian dan “permainan catur” intelijen yang sangat berisiko tinggi di jantung kekuasaan Caracas.


Saat Dinding Istana Berkhianat


Kunci utama dari keberhasilan operasi "Absolute Resolve" bukanlah pada ledakan, melainkan pada informasi. Selama hampir dua tahun, CIA dan intelijen militer (DIA) menjalankan operasi “black op” yang sangat dalam sampai ke jantung istana Maduro.


Mereka tidak hanya menyadap ponsel, tapi juga membeli kesetiaan alias menyuap. Di dalam lingkaran terdalam Maduro, memang terdapat keretakan yang dipicu oleh sanksi ekonomi bertahun-tahun.


"Pengkhianatan" ini datang dari faksi-faksi di dalam SEBIN (Badan Intelijen Nasional) dan pengawal kepresidenan (Casa Militar) yang merasa masa depan mereka lebih terjamin jika terjadi pergantian rezim.


Informasi mengenai lokasi persis bunker perlindungan Maduro di bawah istana, yang dibangun dengan bantuan insinyur dari Kuba, jatuh ke tangan Amerika melalui pembelotan seorang perwira tinggi logistik militer Venezuela.


Perwira inilah yang memberikan kode akses digital dan denah struktur bangunan yang sangat rahasia tersebut. Tanpa "kunci" dari manusia ini, teknologi secanggih apa pun akan menghadapi hambatan fisik yang luar biasa. Inilah yang disebut sebagai kemenangan Human Intelligence (HUMINT) atas loyalitas ideologis.


Secara teknis, pergerakan dimulai pukul 01:00 pagi. Ketika warga Caracas terlelap, pesawat perang elektronik EA-18G Growler yang terbang jauh di lepas pantai mulai memancarkan gelombang untuk mengacak saraf sistem komunikasi Venezuela.


Di saat yang sama, tim siber di Fort Meade mengeksekusi perintah yang telah ditanam selama berbulan-bulan di jaringan listrik nasional.


Walhasil, Caracas menjadi gelap gulita dalam sekejap, tapi bukan karena kerusakan fisik, melainkan karena sistemnya diperintahkan untuk "tidur" oleh kode-kode algoritma dari Amerika.


Di tengah kegelapan total tersebut, dua unit helikopter siluman, varian rahasia dari Black Hawk yang jauh lebih maju dibanding yang jatuh di Abbottabad saat perburuan Bin Laden, terjun bebas dari ketinggian sebelum menyalakan mesin senyapnya beberapa ratus meter dari tanah.


Mereka membawa operator dari Delta Force dan SEAL Team 6. Sebagaimana diketahui, Pasukan elite ini bergerak seperti hantu, menggunakan alat penglihatan malam GPNVG-18 generasi terbaru yang membuat malam yang gelap gulita bagi tentara Venezuela tampak seterang siang hari bagi mereka.


Runtuhnya Perisai Beruang dan Naga


Salah satu bagian paling menarik bagi para analis militer adalah melihat bagaimana alutsista kebanggaan Rusia dan China di Venezuela gagal total. Venezuela bangga dengan sistem S-300VM (Antey-2500) buatan Rusia, yang diklaim sebagai salah satu penangkis serangan udara terbaik di dunia.


Namun, pada malam itu, S-300 yang seharusnya mampu menjangkau sasaran sejauh 250 km hanya menjadi pajangan statis. Mengapa? Karena sistem radarnya mengalami feedback loop akibat gangguan dari EC-130H Compass Call milik AS, membuat operator Rusia dan Venezuela di lapangan hanya melihat ribuan titik palsu di layar mereka.


Begitu pula dengan radar JY-27 buatan China yang digadang-gadang sebagai "pembunuh pesawat siluman".


Radar ini seharusnya bisa mendeteksi jet F-35 Lightning II milik AS melalui frekuensi VHF. Namun, AS melakukan improvisasi taktis. F-35 tidak terbang sendirian sebagai penyerang, melainkan sebagai pusat data yang mengarahkan drone-drone kecil untuk menabrakkan diri ke sensor radar milik Venezuela.


Ketika radar dari China itu berhasil dibuat buta, jalur udara Caracas terbuka lebar seolah-olah tanpa penjaga. Fakta ini membuktikan bahwa senjata Rusia dan China, meski hebat dalam spesifikasi brosur, tidak memiliki integrasi ekosistem sekuat Amerika.


Di laut, armada USS Gerald R. Ford juga menunjukkan dominasi absolut. Dengan sistem ketapel elektromagnetik (EMALS), mereka bisa meluncurkan jet tempur setiap beberapa detik untuk membentuk payung udara yang nyaris tak tertembus.


Kapal-kapal patroli cepat Venezuela buatan Spanyol dan rudal antikapal buatan Iran yang mereka miliki tidak berani keluar pelabuhan karena sistem GPS mereka telah di-spoofing oleh Amerika, membuat aktifitas navigasi menjadi mustahil.


Senjata-senjata tersebut gagal bukan karena rusak, tetapi karena kehilangan "otak" untuk membidik.


Kesenjangan teknologi memang terlihat sangat kontras. Di saat Venezuela masih mengandalkan senapan AK-103 yang andal, tapi buta teknologi, tentara AS menggunakan sistem IVAS (Integrated Visual Augmentation System) yang memungkinkan penglihatan mereka mampu menembus dinding melalui sensor termal yang terhubung ke drone di atas mereka.


Perang ini bukan lagi tentang siapa yang menembak lebih banyak, tetapi siapa yang melihat lebih dulu. Dan malam itu, Amerika melihat segalanya, sementara Venezuela tidak melihat apa-apa.


Jika intelijen manusia memberikan "kunci", maka Kecerdasan Buatan (AI) dari militer AS adalah "kompas" yang memastikan tidak ada jalan keluar bagi sang target.


Dalam hitungan detik sebelum Delta Force menyentuh landasan di Caracas, sebuah sistem AI canggih yang terintegrasi dalam proyek Maven milik Pentagon bekerja di balik layar.


Sistem ini bukan sekadar program komputer biasa, tapi mesin pemroses data masif yang menghubungkan ribuan titik informasi mulai dari umpan satelit optik, sensor panas, hingga penyadapan transmisi radio terenkripsi secara real-time.


Saat pemadaman listrik total menimpa Caracas, AI ini bekerja lebih cepat dari otak manusia manapun untuk mensimulasikan ratusan skenario pelarian yang mungkin diambil oleh Maduro.


Menggunakan data historis mengenai perilaku evakuasi pemimpin dunia sebelumnya dan pemetaan topografi Caracas secara detail, AI secara otomatis menandai tiga rute pelarian utama, yakni terowongan rahasia menuju pangkalan udara La Carlota, jalan tikus menuju pelabuhan La Guaira, dan bunker tersembunyi di perbukitan Fort Tiuna.


Keunggulan Amerika terlihat jelas di sini. AI tidak hanya memetakan rute, tetapi juga mengarahkan unit drone MQ-9 Reaper yang terbang di ketinggian yang tidak terlihat untuk mengunci setiap koordinat tersebut dengan rudal presisi.


Ketika pengawal Maduro mencoba menggerakkan konvoi kendaraan pengecoh (umpan), sistem pengenalan wajah (facial recognition) berbasis AI yang terpasang pada sensor drone langsung mengidentifikasi bahwa konvoi tersebut kosong.


AI memberikan notifikasi instan kepada tim darat bahwa "target tetap di lokasi, abaikan konvoi pengecoh." Deteksi presisi ini menghancurkan taktik gerilya kota yang biasanya sangat menyulitkan pasukan konvensional.


Di masa lalu, seorang diktator mungkin bisa menghilang di tengah kekacauan kota. Namun di bawah pengawasan algoritma milik Amerika pada 2026, setiap pergerakan panas tubuh terdeteksi oleh sensor inframerah yang langsung diterjemahkan menjadi koordinat serangan.


Inilah yang membuat pengepungan tersebut terasa begitu "mulus", karena AS sudah mengetahui ke mana Maduro akan melangkah bahkan sebelum sang presiden sendiri memutuskan untuk beranjak dari kursinya.


Supremasi Strategis


Operasi ini diakhiri dengan pemandangan simbolis di mana Nicolas Maduro dibawa dengan tangan terikat menuju pesawat transport C-17 Globemaster di bawah kawalan ketat, sementara jet-jet F-35 melakukan flyover kemenangan di atas langit Caracas yang mulai terang terkena sinar matahari pagi.


Tidak ada perlawanan berarti dari jet tempur Su-30MK2 buatan Rusia milik Venezuela, hampir semuanya hancur di dalam hangar oleh rudal presisi yang ditembakkan dari jarak ratusan mil oleh kapal selam kelas Virginia.


Tak pelak, kali ini kita sampai pada kesimpulan pahit, terutama bagi para pesaing Amerika bahwa persenjataan Rusia dan China di Venezuela gagal karena mereka dirancang untuk perang masa lalu, sementara AS mulai mempraktikkan perang masa depan.


Kegagalan sistem pertahanan udara buatan luar negeri ini berpotensi memicu krisis kepercayaan global terhadap teknologi militer Moskow dan Beijing. Siapa yang mau membeli sistem rudal seharga miliaran dolar jika ia bisa dimatikan dengan satu perintah siber dari Washington?


Amerika telah mengirimkan pesan yang sangat jelas ke seluruh dunia. Keunggulan strategis mereka tidak hanya terletak pada hulu ledak nuklir, melainkan pada kemampuan untuk masuk ke halaman belakang lawan, mengambil apa yang mereka inginkan, dan keluar tanpa meninggalkan banyak jejak, kecuali ego lawan yang hancur berkeping-keping.


Operasi di Venezuela adalah mahakarya militer yang akan dipelajari di West Point dan sekolah-sekolah perang dunia selama satu abad ke depan sebagai golden standard dari special operation dan intervensi presisi.


Penulis adalah Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution


Sumber: kompas.com

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Berita Terbaru

Back to Top