![]() |
| Tentara Lebanon saat berpatroli di wilayah perbatasan. |
BEIRUT, GebrakNasional.Com – Dua Tentara Lebanon dikabarkan tewas terkena ledakan drone Israel yang terjatuh di wilayah selatan negara tersebut pada Kamis, 28 Agustus 2025, waktu setempat.
Peristiwa itu menjadi insiden mematikan terbaru bagi pasukan militer Lebanon yang ditugaskan di dekat perbatasan Israel.
Berdasarkan gencatan senjata yang berlaku sejak November lalu untuk mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hizbullah, militer Lebanon telah dikerahkan ke wilayah selatan negara itu dan membongkar infrastruktur Hizbullah, dengan dukungan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Saat personel militer sedang memeriksa sebuah drone musuh Israel setelah itu terjatuh di area Naqura, drone itu meledak, yang menyebabkan kematian seorang perwira dan seorang prajurit, serta melukai dua personel lainnya,” kata militer Lebanon dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Jumat, 29 Agustus 2025.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun dalam pernyataan terpisah mengatakan, militer sekali lagi membayar dengan darah, harga untuk menjaga stabilitas di wilayah selatan.
Aoun menyebut, insiden itu merupakan insiden mematikan keempat bagi militer Lebanon sejak mulai dikerahkan ke wilayah selatan negara tersebut, setelah gencatan senjata diberlakukan.
Awal bulan ini, enam tentara Lebanon tewas dalam ledakan yang mengguncang sebuah depot senjata di dekat perbatasan, yang menurut sumber militer Beirut, milik Hizullah.
Ditekankan oleh Aoun bahwa insiden pada Kamis, 28 Agustus 2025 tersebut bertepatan dengan perpanjangan mandat pasukan penjaga perdamaian PBB oleh Dewan Keamanan PBB, menjelang penarikan mereka pada akhir tahun 2027.
Insiden ini, kata Aoun, juga bertepatan dengan seruan komunitas internasional agar Israel menghentikan serangannya, mundur dan memungkinkan militer Lebanon untuk menyelesaikan perluasan kewenangannya hingga ke perbatasan internasional.
Berdasarkan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS), Israel dan Hizbullah sama-sama diwajibkan untuk mundur dari Lebanon bagian selatan, tetapi Israel tetap menempatkan pasukannya di beberapa area yang dianggap strategis.
Perdana Menteri (PM) Lebanon, Nawaf Salam menyampaikan belasungkawa dan solidaritas penuh pemerintah terhadap institusi militer.
Dia mengatakan, militer merupakan katup pengaman, benteng kedaulatan, dan pendukung persatuan nasional Lebanon. (*/red)

Tidak ada komentar:
Tulis komentar