Rabu, 14 Oktober 2026

Satukan Pendidik dari 13 Negara, FOLSEA 2026 Jadi Pusat Berbagi Informasi & Teknologi

Jakarta // GebrakNasional.com - Ratusan pendidik, pemimpin sekolah, dan inovator pendidikan dari 13 negara berkumpul di Bina Bangsa School (BBS) PIK, Jakarta, dalam ajang Future Learning Southeast Asia (FOLSEA) 2026 yang diselenggarakan pada 10–11 Oktober 2026. 

Mengusung tema “Humanising Technology: Putting People at the Centre of the Future of Learning” (Memanusiakan Teknologi: Menempatkan Manusia sebagai Pusat Masa Depan Pembelajaran).


Salah satu sorotan utama konferensi ini adalah sesi keynote yang dibawakan oleh Douglas Kiang dari Menlo School. 
Dia membagikan berbagai wawasan sekaligus mengajak para pendidik untuk berpikir kritis mengenai peran teknologi dalam membentuk masa depan pembelajaran.

Selama dua hari penyelenggaraan, para peserta mengikuti berbagai kegiatan, termasuk presentasi keynote, lokakarya praktik langsung (hands-on workshops), sesi micro-keynote, pameran inovasi pendidikan (showcases), serta diskusi kolaboratif. 
Co-Chair FOLSEA sekaligus Head of Educational Technology Bina Bangsa School Alvin Soliman Miclat mengatakan para pendidik dari berbagai negara dan komunitas pendidikan turut berbagi pengalaman, praktik baik, tantangan, dan gagasan mereka. 

Hal itu membuka kesempatan bagi peserta untuk belajar tidak hanya dari para ahli, tetapi juga dari sesama pendidik.
Kehadiran ratusan pendidik yang mewakili 13 negara mencerminkan semakin pentingnya kolaborasi regional dan internasional dalam dunia pendidikan. 

Di tengah pesatnya kecerdasan buatan dan teknologi digital yang dihadapi sekolah-sekolah di seluruh dunia, FOLSEA menjadi wadah bagi para pendidik untuk berbagi secara terbuka mengenai praktik yang telah berhasil diterapkan.

Hal-hal yang sedang mereka pelajari, serta berbagai tantangan yang masih dihadapi.
Bagi Bina Bangsa School, menjadi tuan rumah FOLSEA 2026 merupakan kesempatan untuk menyambut komunitas pendidikan yang lebih luas di Jakarta sekaligus berkontribusi dalam diskusi dan pertukaran gagasan yang melampaui batas masing-masing sekolah maupun negara.

“FOLSEA bukan sekadar tentang menampilkan teknologi terbaru. FOLSEA adalah tentang mempertemukan para pendidik agar dapat belajar satu sama lain dan bersama-sama mencari cara untuk memanfaatkan teknologi dengan tujuan yang lebih bermakna,” ujar Alvin.

Adapun acara selama dua hari ini mempertemukan komunitas pendidik dari berbagai latar belakang untuk menjalin koneksi, berkolaborasi, bertukar gagasan, serta mengeksplorasi bagaimana pendidikan dapat terus berkembang di era yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi baru.
Inti dari FOLSEA 2026 adalah keyakinan bersama bahwa meskipun teknologi terus memperluas berbagai kemungkinan dalam dunia pendidikan, manusia harus tetap menjadi pusat dari proses pembelajaran.

Alih-alih berfokus pada penggunaan teknologi semata, konferensi ini mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan secara terarah untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran, memberdayakan siswa dan pendidik, memperkuat hubungan antarmanusia, serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

“Teknologi akan terus berubah, tetapi pendidikan akan selalu berpusat pada manusia. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa inovasi memperkuat hubungan antarmanusia, bukan justru menggantikannya," kata Alvin.

Di luar sesi dan lokakarya yang diselenggarakan, FOLSEA 2026 juga menjadi momentum untuk membangun hubungan dan jejaring profesional. Koneksi yang terjalin di antara para pendidik dari 13 negara membuka peluang untuk melanjutkan kolaborasi, berbagi pengalaman, dan belajar bersama, bahkan setelah konferensi berakhir.

Acara ini menegaskan sebuah pesan sederhana namun penting: masa depan pembelajaran tidak akan ditentukan oleh teknologi semata. Masa depan tersebut akan dibentuk oleh para pendidik dan siswa yang menggunakan teknologi dengan penuh kesadaran, kreativitas, empati, dan tujuan yang jelas.

Saat FOLSEA 2026 resmi berakhir di Jakarta, para peserta kembali ke sekolah dan komunitas masing-masing dengan membawa gagasan baru, koneksi baru, serta komitmen bersama untuk membentuk masa depan pembelajaran yang tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. (Wie)

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Berita Terbaru

Back to Top