![]() |
| Foto ilustrasi. |
Oleh: Waode Nurmuhaemin
Wajah pendidikan tinggi kita hari ini seolah sedang dipaksa bercermin pada sebuah realitas yang buram dan menyesakkan dada.
Belum tuntas rasa mual publik atas skandal yang terjadi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), di mana belasan mahasiswa yang digadang-gadang menjadi calon penegak keadilan justru terungkap melakukan pelecehan verbal masif terhadap mahasiswi hingga dosen melalui grup pesan singkat, kini sorotan tajam beralih ke Bandung.
Publik kembali dikejutkan oleh fenomena serupa namun tak sama dari kampus gajah. Mahasiswa yang bernaung di bawah Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB mendadak viral karena sebuah video bertajuk "Goyang Erika"—sebuah aksi yang menampilkan mereka mengenakan atribut himpunan kebanggaan namun diiringi oleh lirik lagu yang vulgarnya melampaui batas kewajaran akademik.
Ironisnya, tindakan yang jelas-jelas merendahkan martabat manusia ini berlindung di balik tameng kata "tradisi" yang konon sudah dilestarikan di lingkungan tersebut sejak era 1980-an. Informasi yang beredar menyebutkan, video viral tersebut disinyalir diambil sekitar tahun 2020, namun baru meledak dan menjadi konsumsi publik secara luas saat ini.
Meski ada upaya pembelaan bahwa itu adalah "dosa lama" atau sekadar dokumentasi internal yang bocor, dalih tersebut sama sekali tidak mengurangi esensi masalahnya.
Fakta bahwa video tersebut baru viral sekarang tidak menghapus kenyataan pahit bahwa budaya vulgaritas tersebut pernah atau mungkin masih dipelihara dengan sadar di dalam sebuah institusi pendidikan tinggi negeri yang paling bergengsi di Indonesia.
Sebuah video, kapan pun ia dibuat, adalah jejak digital yang menjadi cerminan nilai-nilai yang dianut oleh sebuah kelompok pada masanya.
Ketika video itu muncul ke permukaan, ia tetap menjadi noda yang mencoreng wajah institusi, membuktikan bahwa ada lubang hitam dalam pendidikan karakter yang seharusnya menjadi fondasi utama bagi para calon teknokrat bangsa.
Ada benang merah yang sangat mengkhawatirkan antara skandal di FH UI dan tradisi di HMT ITB tersebut, yakni hilangnya sensitivitas terhadap marwah perempuan di lingkungan akademik.
Di UI, perempuan dijadikan objek pelecehan dalam ruang digital yang gelap, sementara di lingkungan Himpunan Mahasiswa Tambang ITB, pelecehan terhadap perempuan justru seolah dirayakan secara terbuka melalui lagu yang dinyanyikan massal.
Sangat menyedihkan melihat mahasiswa—yang secara kognitif berada di level elit dan kompetitif justru kehilangan nalar kritisnya saat berhadapan dengan lirik lagu "Erika" yang secara eksplisit melakukan objektifikasi seksual.
Bagaimana mungkin calon-calon insinyur dan pemimpin industri masa depan ini tidak merasa risih atau malu saat menyuarakan kata-kata yang menjatuhkan kehormatan ibu, saudara perempuan, maupun rekan sejawat mereka sendiri demi sebuah alasan viralitas murahan atau sekadar solidaritas semu di dalam himpunan?
Alasan bahwa ini adalah warisan turun-temurun dari era 80-an justru menjadi pengakuan atas kegagalan evolusi moral di dalam internal organisasi.
Tradisi seharusnya menjadi sarana untuk mentransfer nilai-nilai luhur, pengetahuan, dan integritas, bukan menjadi alat untuk melanggengkan perilaku misoginis dan vulgaritas yang sudah kadaluwarsa.
Jika di tahun 80-an kesadaran akan hak, kesetaraan, dan kehormatan perempuan belum sekuat sekarang, maka di abad ke-21 ini, tetap memelihara "Goyang Erika" di bawah bendera Himpunan Mahasiswa Tambang ITB adalah sebuah kemunduran peradaban yang memalukan.
Mempertahankan budaya yang cacat moral hanya karena alasan "sudah dari sananya" atau "sekadar seru-seruan" adalah bentuk degradasi intelektual yang nyata.
Mahasiswa seharusnya menjadi filter budaya yang paling depan di masyarakat, bukan malah menjadi corong bagi narasi-narasi yang merusak karakter dan moralitas bangsa.
Krisis literasi dan empati yang melanda kampus-kampus "Gajah" ini adalah alarm keras bagi seluruh birokrasi kampus di Indonesia.
Institusi bergengsi seperti UI dan ITB tidak boleh hanya berpuas diri pada pencapaian peringkat dunia, kecanggihan laboratorium, atau banyaknya publikasi riset, jika di saat yang sama mereka membiarkan lingkungan akademiknya terkontaminasi oleh normalisasi pelecehan dan budaya patriarki yang kolot.
Menara gading harus kembali menjadi benteng etika yang kokoh, tempat di mana setiap individu dihormati tanpa memandang gender.
Sudah saatnya mata rantai tradisi yang memalukan ini diputus dengan tegas tanpa kompromi.
Pendidikan karakter tidak boleh kalah telak oleh ambisi algoritma sosial media atau tekanan kelompok yang salah arah.
Jika organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Tambang ITB tidak lagi mampu menjaga marwah perempuan dan standar moral yang tinggi, lantas kepada siapa lagi masyarakat Indonesia bisa menggantungkan harapan akan lahirnya generasi pemimpin yang tidak hanya cerdas secara otak, tapi juga beradab secara moral?
Penulis adalah Praktisi pendidikan, penulis buku dan novel pendidikan.
Sumber: kompas.com

Tidak ada komentar:
Tulis komentar