Oleh: Ija Suntana
Kalau para aktor konflik di Selat Hormuz masih waras, melakukan eskalasi militer di kawasan itu—termasuk kawasan Timur Tengah lainnya—ibarat orang yang sedang duduk di atas pohon, lalu menggergaji dahan yang sedang dia pijak sendiri. Cukup berkapasitas, tapi kurang waras.
Kawasan itu betul bukan pusat teknologi dunia, bukan juga pusat budaya global paling dominan saat ini. Namun, ada satu hal yang membuatnya sangat penting, yaitu energi.
Dunia modern saat ini berjalan dengan minyak dan gas, dan salah satu jalur paling vital untuk itu adalah Selat Hormuz. Lewat jalur sempit ini, sebagian besar pasokan energi dunia mengalir setiap hari.
Kita tahu jika kawasan ini tidak stabil, kapal terganggu, pengiriman logistik tersendat, harga minyak melonjak. Dampaknya bukan hanya di Timur Tengah, tetapi juga sampai ke dapur-dapur rumah tangga di seluruh dunia.
Harga transportasi naik, harga barang ikut naik, dan ujung-ujungnya rakyat biasa yang paling merasakan. Memicu konflik di kawasan ini seperti menekan tombol yang mengguncang ekonomi global.
Ketika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, memang dunia tidak langsung panik. Namun, juga tidak bisa santai.
Situasinya seperti rudal yang belum meledak. Tidak ada ledakan sekarang, tetapi semua orang tahu potensi bahayanya masih ada.
Kebuntuan diplomasi tersebut bisa bergerak ke mana saja. Bisa membaik, bisa memburuk. Bisa tenang, bisa tiba-tiba panas. Tidak ada kepastian. Dan ketidakpastian itulah yang paling membuat dunia global gelisah.
Kalau konflik meningkat kembali, salah satu titik paling sensitif tetap Selat Hormuz. Sedikit saja gangguan di sana, efeknya langsung terasa ke seluruh dunia.
Jadi, ketika ada pihak yang bermain api di kawasan ini, itu seperti orang yang sengaja mengacaukan sumber air yang dia sendiri butuhkan untuk hidup.
Di sinilah para aktor konflik itu tidak warasnya. Tindakan mereka merugikan semua pihak, termasuk pelakunya sendiri.
Negara-negara yang terlibat mungkin ingin menunjukkan kekuatan, ingin menang secara politik, atau ingin menjaga gengsi.
Namun, kalau ujungnya adalah instabilitas besar, semua itu menjadi tidak sebanding. Ibarat dua orang berebut kemudi di dalam mobil yang sedang melaju kencang.
Keduanya menarik setir ke arah berlawanan. Mobil itu tidak akan dimenangkan oleh salah satu—yang ada justru kecelakaan. Dan semua penumpang ikut jadi almarhum.
Pemenang Negosiasi dan Pengemudi Mabuk
Mungkin, sebagian besar negara di dunia tidak terlalu peduli siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam negosiasi kemarin.
Mereka tidak sibuk menghitung siapa yang unggul secara diplomatik. Yang mereka inginkan jauh lebih sederhana, yaitu jangan sampai kawasan ini meledak.
Stabilitas lebih penting daripada kemenangan simbolik. Tidak ada gunanya satu pihak menang berdiplomatik jika harga energi melonjak, ekonomi terguncang, dan konflik meluas.
Dalam kondisi seperti itu, pemenang berubah menjadi pecundang. Konflik di kawasan Hormuz ini tidak pernah berdiri sendiri. Ia terhubung dengan ekonomi, politik, bahkan psikologi kekuasaan.
Seiring dengan semakin kompleks kepentingan di Kawasan itu, semakin besar pula risiko jika salah langkah. Dan di sinilah pentingnya kewarasan para aktor.
Sayangnya, dalam banyak kasus konflik regional, keputusan politik tidak selalu didasarkan pada kewarasan. Ada gengsi, ada keinginan untuk terlihat kuat.
Akibatnya, tindakan yang diambil lebih didorong oleh “otot daripada otak”. Dan ketika otot lebih diutamakan daripada otak, hasilnya sering kali berbahaya.
Konflik di kawasan Selat Hormuz bukan permainan yang sehat. Itu permainan berisiko tinggi di tempat yang salah. Persis bermain api di gudang bahan bakar.
Membuat instabilitas di kawasan itu sama saja dengan bunuh diri. Bukan bunuh diri yang “cantik”, tetapi bunuh diri yang merusak banyak orang sekaligus.
Tidak elegan, tidak cerdas, dan tidak perlu. Karena itu, harapan terbesar dunia bukanlah siapa yang menang, tetapi siapa yang cukup waras untuk berhenti sebelum semuanya terlambat.
Namun, sayang seribu sayang, para aktor konflik di kawasan itu seperti orang mabuk tuak yang diminta mengemudikan kapal dengan kecepatan maksimal.
Mereka mungkin merasa percaya diri, bahkan merasa hebat, tetapi semua orang di sekelilingnya tahu satu hal—ini bukan soal keberanian, ini soal potensi kecelakaan yang tinggal menunggu waktu.
Masalahnya, kapal yang mereka kemudikan bukan kapal biasa, tapi kapal yang melintas di jalur sempit bernama Selat Hormuz, jalur energi dunia.
Sedikit saja kapal itu oleng, dampaknya bukan sekadar lecet di bodi, tetapi bisa membuat seluruh “penumpang global” ikut terpental.
Harga minyak melonjak, ekonomi terguncang, dan negara-negara lain yang tidak ikut menyetir justru harus ikut menanggung akibatnya.
Kita berharap para aktor konflik waras kembali. Harapannya sederhana dan tidak muluk-muluk.
Mereka tidak harus berubah drastis menjadi bijak, tetapi berharap mereka kembali menjadi cukup sedikit waras untuk berhenti sebelum semuanya terlambat.
Penulis adalah Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Sumber: kompas.com

Tidak ada komentar:
Tulis komentar