![]() |
| Wapres AS JD Vance disambut oleh Wakil PM dan Menlu Paksitan, Mohammad Ishaq Dar, dan pejabat tinggi Pakistan lainnya saat mendarat di pangkalan udara dekat Islamabad. |
JAKARTA, GebrakNasional.Com - Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS), JD Vance dikabarkan telah berada di pangkalan udara di dekat Islamabad, Ibu Kota Pakistan, pada Sabtu, 11 April 2026, waktu setempat.
Vance akan memimpin delegasi AS dalam negosiasi dengan Iran, untuk membahas finalisasi gencatan senjata guna mengakhiri perang selama enam pekan terakhir.
Seperti dilansir dari AFP, Sabtu, 11 April 2026, Vance yang diutus oleh Presiden Donald Trump untuk memimpin tim negosiasi AS, disambut oleh Kepala Militer Pakistan, Asim Munir, setelah mendarat di pangkalan udara Nur Khan, dekat Islamabad.
Munir mengantar Vance menyusuri karpet merah yang digelar di pangkalan udara tersebut, di mana Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sudah menunggu.
Diketahui, Pakistan menjadi tuan rumah dan mediator dalam perundingan lanjutan antara AS dan Iran ini, setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada Selasa, 07 April 2026, waktu setempat.
Delegasi Iran yang dipimpin oleh ketua parlemen negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, tiba terlebih dahulu pada Jumat malam, 10 April 2026, dan juga disambut oleh Munir.
Perundingan AS-Iran di Islamabad ini digelar saat kedua negara masih memiliki perbedaan pendapat soal tuntutan utama dalam gencatan senjata dan saling menunjukkan ketidakpercayaan satu sama lain.
Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran yang terdiri atas lebih dari 70 orang, mengatakan, Teheran memiliki niat baik dalam menghadiri perundingan ini.
"Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak saling percaya. Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji-janji yang tidak ditepati," kata Ghalibaf, seperti dikutip televisi pemerintah Iran, ketika tiba di ibu kota Pakistan.
Menjelang perundingan, muncul tanda tanya mengenai syarat yang diajukan delegasi Iran untuk dimulainya negosiasi.
Teheran menegaskan bahwa gencatan senjata selama dua minggu harus diterapkan juga di Lebanon, di mana Israel masih melancarkan pengeboman terhadap Hizbullah yang didukung Iran.
Teheran juga menyerukan agar pembekuan aset-asetnya di luar negeri karena sanksi AS segera dicabut.
Vance yang memimpin delegasi AS, juga menunjukkan kewaspadaan yang sama dalam komentarnya kepada wartawan sebelum bertolak ke Pakistan.
"Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka," ucapnya.
"Jika mereka berusaha mempermainkan kami, maka mereka akan mendapati tim negosiasi yang tidak begitu responsif," ujar Vance memperingatkan Iran.
Gencatan senjata sementara yang disepakati AS-Iran dinilai rapuh, dengan Israel terus menggempur Lebanon, yang menjadi markas kelompok Hizbullah.
Tel Aviv dan Washington menegaskan gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, sedangkan Teheran dan Islamabad menyatakan sebaliknya.
Perdana Menteri (PM) Pakistan, Shehbaz Sharif mengingatkan adanya "tahap yang lebih sulit di depan", dengan menyebut kemajuan dalam perundingan akan membutuhkan kerja keras.
Dia menyebut perundingan di Islamabad ini akan menjadi "penentu keberhasilan atau kegagalan". (*/red)

Tidak ada komentar:
Tulis komentar