![]() |
| Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK). |
JAKARTA, GebrakNasional.Com – Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) menyatakan duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Diketahui, Khamenei wafat dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel, pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026.
"Dengan terbunuhnya Pimpinan Ali Khamenei, itu juga merupakan suatu hal yang sangat kita sayangkan. Kita bersedih dan berduka atas peristiwa tersebut," ujar JK kepada wartawan, di kawasan Jakarta Selatan, Minggu, 01 Maret 2026.
JK juga menyayangkan serangan tersebut dilakukan di tengah proses perundingan antara AS dan Iran.
“Dari segi etika, kalau sedang berunding jangan menyerang. Ini memang keadaan yang bagi kita semua sangat memprihatinkan,” ujarnya.
JK turut menyoroti tindakan Amerika yang dinilai kerap melakukan penyerangan terhadap negara-negara yang dianggap tidak sepaham dengan mereka, seperti Venezuela dan sejumlah negara di Timur Tengah.
“Ini memang menjadi bagian dari keprihatinan kita terhadap sikap dan kekerasan yang dilakukan Amerika terhadap Iran,” ujarnya.
Diketahui sebelumnya, Pemerintah Iran, pada Minggu, 01 Maret 2026, mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal dunia dalam serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu pagi.
Pemerintah Republik Islam juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Sejumlah kantor berita Iran, termasuk Tasnim, Mehr, dan Press TV, secara bersamaan melaporkan bahwa pemimpin berusia 86 tahun itu “gugur sebagai martir” dalam serangan tersebut.
"Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dalam serangan gabungan oleh Amerika yang kriminal dan rezim Zionis,” demikian pernyataan Pemerintah Iran.
“Pada saat gugur sebagai Syahid, beliau sedang menjalankan tugas yang diberikan kepadanya dan berada di tempat kerjanya ketika serangan tersebut terjadi,” lanjut pernyataan itu, sekaligus menepis klaim “perang psikologis rezim Zionis” yang menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi tersebut bersembunyi di lokasi aman.
"Kejahatan besar ini tidak akan pernah dibiarkan tanpa jawaban dan akan menandai babak baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah,” demikian pernyataan kantor Presiden Masoud Pezeshkian, yang juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari. (*/red)

Tidak ada komentar:
Tulis komentar