Sabtu, 28 Maret 2026

Paradoks di Peron 7 Stasiun Bekasi: Buruh Digital Tanpa Bayaran adalah Kita


Oleh: Heru Margianto


Hari ini, Sabtu, 28 Maret 2026, Indonesia resmi memasuki babak baru dalam sejarah kedaulatan digitalnya. 


Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengetok palu: akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun resmi dibatasi. 


Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid mengatakan, tahap awal implementasi akan dilakukan dengan menonaktifkan akun milik pengguna yang teridentifikasi berusia di bawah 16 tahun pada sejumlah platform digital. 


Menurut Meutya, ini merupakan langkah perlindungan dari berbagai risiko yang dihadapi anak di ruang digital, mulai dari kecanduan gawai hingga paparan konten berbahaya. 


Tentu, ini merupakan langkah yang baik. Negara hadir untuk menyelamatkan generasi masa depan. 


Masalahnya, persoalan atas media sosial tidak hanya mengancam anak-anak, tapi juga mengancam orang dewasa. 


Ancaman yang tidak tampak sebagai ancaman, tidak mengerikan, halus, tidak memaksa, tapi sesungguhnya amat merusak: amukan algoritma media sosial yang adiktif dan paradoks yang getir di dalamnya. 


Terpujilah mereka yang bisa melepaskan diri atau setidaknya mengurangi kegandrungan bermedia sosial. 


Suatu pagi, di stasiun Bekasi, peron 7, saya terhenyak melihat pemandangan seperti terlihat pada foto utama artikel ini. Saya mengabadikannya sambil senyum-senyum sendiri. 


Pemandangan itu seperti cermin. Saya sedang melihat diri saya sendiri. Seperti yang Anda lihat pada foto di atas, yang paling sibuk adalah kesunyian. 


Sambil menunggu kereta datang, semua orang tampak sibuk menatap layar dalam senyap. Kita -saya dan Anda- adalah juga mereka. Kerap sibuk dalam kesunyian interaksi di layar ponsel. 


Lazimnya, kita mendefinisikan aktivitas kita dalam senyap itu sebagai mengisi waktu luang, refreshing, aktivitas hiburan, bermain, atau sedang bercanda dengan teman. 


Menurut data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025, mayoritas pengguna internet di Indonesia yang jumlahnya mencapai 229 juta jiwa (80,66 persen dari jumlah penduduk Indonesia) mengaku alasan mereka terkoneksi dengan internet adalah untuk mengakses media sosial (24,8 persen) dan mengakses konten hiburan (14,67 persen). 


Sebanyak 83,39 persen mangakses internet dari telepon selular mereka. Data ini memvalidasi aktivitas yang terekam dalam foto itu: ponsel, internet, dan media sosial. 


Apa yang kita dapatkan di media sosial? Sungguh kabar baik: media sosial menghubungkan kita dengan banyak orang di dunia, memberikan hiburan dan informasi gratis, juga memberikan validasi atas identitas personal yang ingin kita bangun dalam relasi sosial kita. 


Kabar buruknya: kita tidak sedang menikmati semua hal di atas. Di balik pemahaman “menikmati” layanan media sosial, sesungguhnya kita sedang bekerja tanpa dibayar untuk semua platform media sosial global. 


Kita adalah buruh media sosial yang sedang bekerja dengan senyap, tanpa dibayar. 


Ketika jempol kita bergerak dengan ritmis menggulir linimasa tanpa batas (infinite scroll) dan mengetuk like, menekan tombol share, memberi komentar, atau mengunggah status, pada saat yang sama platform global sedang menghitung triliunan rupiah dari usapan jempol kita. 


Menurut laporan Wearesocial 2026, berdasarkan durasi waktu yang dihabiskan, lima media sosial yang populer di Indonesia sepanjang 2025 adalah Tiktok, Whatsapp, Youtube, Facebook, dan Instagram


Ketika kita sedang berasyik masyuk di lima plarform tersebut, sesungguhnya kita sedang mendulang pundi-pundi uang ke kantong Zhang Yiming (pemilik ByteDance-perusahaan induk tiktok), Mark Zuckerberg (pemilik Meta-perusahaan induk Whatsapp, Facebook, dan Instagram), dan Larry Page dan Sergey Brin (pemilik Alphabet.inc-perusahaan induk Google dan Youtube). 


Buruh Digital Global


Ada buku menarik yang menjelaskan soal ini yang ditulis oleh Prof Christian Fuchs, “Social Media: A Critical Introduction”. 


Ia adalah seorang chair professor di Universitas Paderborn, Jerman. Ini adalah universitas riset negeri terkemuka yang berdiri sejak 1972. 


Edisi pertama buku ini diterbitkan tahun 2013 saat Fuchs menjadi guru besar untuk studi media, komunikasi dan masyarakat di Universitas Westminster, Inggris. 


Saya benci sekali membaca buku ini karena harus menghadapi kenyataan getir atas hidup saya sendiri. 


Fuchs membedah media sosial bukan sebagai ruang berbagi yang demokratis macam gagasan ruang publik Jurgen Habermas, melainkan sebagai pabrik raksasa tanpa dinding di mana setiap penggunanya adalah buruh digital (digital labour). 


Dalam pandangan Fuchs, aktivitas santai seperti mengunggah foto, menulis status, hingga sekadar memberikan like, sebenarnya adalah bentuk kerja produktif yang menghasilkan nilai lebih bagi pemilik platform. 


Dalam kacamata ekonomi politik digital, nilai lebih bagi pemilik platform adalah keuntungan yang diperas dari selisih antara nilai yang dihasilkan oleh aktivitas pengguna dan biaya operasional sistem yang sebenarnya. 


Bahasa gampangnya begini. Bayangkan platform sebagai ladang raksasa. Kita, para pengguna, adalah "petani" yang mencangkul, menanam, dan memanen data melalui setiap unggahan, komentar, dan durasi tatap layar. 


Namun, hasil panen berupa data perilaku dan perhatian kita itu tidak kita miliki. Ia sepenuhnya dirampas oleh pemilik platform untuk dijual kepada pengiklan dengan harga selangit. 


Inilah "tuyul digital" yang bekerja dalam senyap. Pemilik platform menumpuk kekayaan eksponensial bukan dari hasil kerja mereka sendiri, melainkan dari akumulasi energi kognitif dan waktu hidup jutaan "buruh sukarela" macam kita yang dibayar hanya dengan jempol digital dan kesenangan semu. 


Jauh lebih baik buruh pabrik konvensional yang dapat upah, THR, dan hak cuti, kadang juga makan siang gratis di pabrik. Sebagai buruh digital, kita “diupah” dengan kesenangan semu dan akses gratis. Hiks. 


Runtuhnya Waktu Kerja dan Waktu Luang


Di kalangan akademisi, Fuchs memang dikenal sebagai tokoh kunci yang menghidupkan kembali pemikiran Karl Marx untuk membedah internet. Ia sering disebut sebagai "Digital Marxist". 


Boleh juga dikatakan, Fuchs adalah penerus tradisi kritis Mazhab Frankfurt (seperti Adorno dan Horkheimer) di era digital. Ia tidak hanya mengamati media, tapi mengkritik kekuasaan dan ketidakadilan yang ada di dalamnya. 


Melalui lensa Marxisme Digital, Fuchs menegaskan bahwa di era internet, batas antara waktu kerja dan waktu luang telah runtuh sepenuhnya atau mengalami ekploitasi tanpa henti. 


Saat kita menghabiskan waktu berjam-jam melakukan scrolling, kita sebenarnya sedang melakukan kerja pengumpulan data secara sukarela. 


Data perilaku, minat, dan kecenderungan psikologis yang dihasilkan atas aktivitas kita merupakan bahan mentah yang diekstraksi oleh kapitalisme digital. Inilah yang disebut Fuchs sebagai komodifikasi penonton dalam skala masif. 


Manusia tidak lagi menjadi subjek yang menggunakan alat, tetapi justru menjadi objek (komoditas) yang dipanen oleh algoritma demi akumulasi modal. 


Fuchs melihat bahwa struktur media sosial saat ini melanggengkan alienasi atau keterasingan manusia dari dirinya sendiri. 


Sebagai pengguna media sosial, kita merasa sedang mengekspresikan identitas dan kebebasan, padahal kita sedang terjebak dalam desain arsitektur yang memaksa kita untuk terus berproduksi demi kelangsungan hidup platform. 


Bagi Fuchs, sistem ini adalah bentuk kapitalisme ekstraktif yang paling canggih: ia menghisap kreativitas, relasi sosial, dan perhatian manusia tanpa harus memberikan jaminan kesejahteraan, menciptakan tatanan di mana "partisipasi" hanyalah selubung bagi penghisapan nilai yang terjadi di balik layar-layar bercahaya. 


Fuchs menghidupkan kembali konsep prosumer (producer-consumer/produsen-konsumen) untuk menunjukkan betapa kaburnya garis antara konsumsi dan produksi di jagat digital. 


Kita adalah produsen sekaligus konsumen. Jika dalam ekonomi klasik konsumen adalah pihak yang mengeluarkan uang untuk menikmati barang, dalam jagat media sosial, kita adalah konsumen yang sekaligus menjadi produsen utama. 


Kita mengonsumsi konten orang lain (konsumen), tapi di saat yang sama, setiap jejak digital, komentar, dan unggahan kita adalah bahan baku konten bagi orang lain (produsen). 


Bagi Fuchs, prosumerisme ini adalah bentuk eksploitasi ganda: kita membayar penyedia layanan dengan data pribadi kita (sebagai harga akses), sekaligus memberikan tenaga kerja gratis untuk membangun nilai ekonomi platform tersebut. 


Lebih jauh lagi, Fuchs memandang status prosumer ini sebagai jebakan ideologis yang sangat halus. Industri teknologi memasarkan konsep "partisipasi" dan "kreativitas" agar pengguna merasa memiliki kuasa dan agensi. 


Namun, kenyataannya, prosumer tidak memiliki kontrol atas alat produksi (algoritma) maupun hasil produksinya (data dan profit). 


Kita hanyalah buruh yang "merasa bebas" karena tempat kerja kita berbentuk aplikasi yang menghibur. Inilah puncak dari alienasi digital: manusia merasa sedang merayakan eksistensi dirinya sebagai prosumer, padahal ia sedang bekerja lembur tanpa upah untuk memperkaya segelintir pemilik modal. 


Bahasa sederhanya begini. Kita seperti orang yang disuruh jaga warung orang lain, barang dagangannya punya kita sendiri, pembelinya kita juga, eh, yang pegang kunci laci kasirnya tetap si pemilik warung, yaitu Zhang Yiming, Mark Zuckerberg, Larry Page dan Sergey Brin yang mahakaya itu. Sebel banget menyadari ini, tapi kita senang dan merasa baik-baik saja. *** 


Pagi itu di Stasiun Bekasi, sembari menunggu kereta arah Tanah Abang tiba, usai memotret, saya kembali menundukkan kepala dengan khidmat di hadapan layar ponsel, dan—tentu saja—membuka Instagram. 


Sebuah gerak refleks yang membuktikan bahwa meski otak saya sudah dijejali teori eksploitasi Fuchs, jempol saya tetaplah penganut setia aliran prosumerisme yang taat. Inilah paradoks paling konyol abad ini. 


Media sosial itu sesungguhnya penjara, tapi kita adalah narapidana yang jatuh cinta pada jeruji penjaranya sendiri. 


Pagi itu saya menertawakan diri saya sendiri bersama orang-orang di peron 7 itu yang adalah mandor sekaligus kuli bagi kemakmuran orang lain. 


Hiks, selamat datang di era baru: hari ini kita resmi menyelamatkan anak-anak dari layar, tapi lupa menyelamatkan diri sendiri dari kebodohan massal yang bernama “kerja bakti untuk Silicon Valley dan daratan Tiongkok”. 


Mari lanjut scrolling lagi, siapa tahu ada kabar duka yang bisa kita kasih tombol hati.


Penulis adalah Managing Editor Kompas.com


Sumber: kompas.com

Show comments
Hide comments
Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Berita Terbaru

Back to Top